Alasan Kenapa Hanya Ada Sedikit Negara dengan Bendera Ungu

Hosting Unlimited Indonesia

Ada sekitar 196 negara di dunia saat ini, tidak termasuk micronations yang banyak tersebar di Amerika Serikat dan Australia. Dari sekian banyak negara, sebagian besar tidak menggunakan warna ungu dalam bendera resmi negaranya. Indonesia termasuk salah satu negara yang tersebut. Dalam sejarah pun, diketahui hampir tidak ada kerajaan dan peradaban yang menggunakan warna ungu sebagai lambang bendera dan panji-panjinya.

Lalu, apa yang salah dengan warna ungu? Mengingat warna ungu sangat populer saat ini baik sebagai warna pakaian, peralatan bahkan warna ruangan. Jawabannya sederhana, ungu adalah warna yang mahal.

Begini penjelasannya, sebelum 1800-an, atau tepatnya 1856, hanya diketahui satu cara yang umum untuk menghasilkan warna ungu. Pewarna untuk warna ungu sebagian besar berasal dari sebuah kota perdagangan bernama Tyre,  sekarang termasuk dalam wilayah Lebanon. Warna ungu didapat dari mengekstraknya dari siput laut kecil yang hanya terdapat di Laut Mediterania, dibutuhkan sekitar 10.000 siput untuk menghasilkan 1 gram perwarna ungu.

Karena kelangkaannya inilah, pewarna ungu menjadi sangat mahal. Bahkan dikatakan harga pewarna ungu lebih mahal dari beratnya dalam emas hingga tiga kali lipat, artinya untuk mendapat 500 gram pewarna ungu, seseorang harus membayarnya dengan 1500 gram emas.

Tidak heran jika akhirnya warna ungu diasosiasikan dengan kekayaan dan kekuasaan bahkan menjadi simbol status bagi para anggota keluarga kerajaan di Persia, Roma dan Mesir. Ratu Elizabeth Pertama pernah melarang siapapun selain anggota keluarga terdekat kerajaan untuk menggunakan pakaian berwarna ungu. Saking mahalnya pewarna ungu di masa lalu, salah satu raja kerajaan Romawi, Aurelian pernah melarang istrinya untuk membeli pakaian berwarna ungu karena harganya yang sangat mahal.

Jadi, karena harganya yang mahal inilah, hampir tidak ada kerajaan atau negara yang berdiri sebelum 1856 yang menggunakan warna ungu dalam bendera resminya. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mewarnai bendera-bendera tersebut.

Lalu apa yang terjadi pada 1856? Seorang kimiawan asal Inggris bernama William Henry Perkin secara tidak sengaja menemukan sebuah senyawa sintetis yang bisa memberikan warna ungu pada kain saat sedang melakukan ujicoba untuk menemukan obat untuk malaria. Perkin menyadari bahwa penemuannya ini berharga mahal, apalagi pada saat itu Inggris sedang memasuki revolusi industri, maka dia kemudian mempatenkan penemuannyanya dan menjadi kaya raya.

Setelah tahun tersebut, ada beberapa negara yang menggunakan warna ungu dalam warna bendera resmi negaranya seperti Republik Dominica, El Savador, Nicaragua, Sri Lanka, Qatar dan Republik Spanyol di tahun 1930-an.

Incoming search terms:

Hosting Unlimited Indonesia