Etika Berpacaran Menurut Hindu

Hosting Unlimited Indonesia

Pacaran seakan menjadi trend dikalangan anak muda di jaman sekarang ini. Sayangnya, tidak semua anak muda yang pacaran tersebut menerapkan pacaran sehat. Hasilnya pun, semakin banyak yang melakukan hubungan seks diluar nikah, bahkan lebih parah, angka kehamilan diluar nikah dan aborsi juga ikut meningkat.

Pacaran sendiri sebenarnya sesuatu yang “sakral”, karena pada dasarnya pacaran sama dengan mencari pasangan hidup. Pacaran juga menjadi masa bagi remaja untuk mampu membedakan antara “cinta” dan “birahi”.

Agar pembahasannya tidak melebar kemana-mana, berikut ini adalah etika berpacaran yang diambil dari petikan sloka-sloka dalam kitab suci Manawadharmasastra, Gautama Smrti maupun Kamasutra.

a. ” Vayasaḥ karmano’rthasya śṛutasyabhijanasya ca, vesavag buddhi sārupyaṁ ācāran vicarediha” – Hendaknya ia berjalan di dunia fana ini menyesuaikan pakaianya, kata-kata, dan pikiranya agar ia sesuai dengan umum, kedudukan, kekayaan, pelajaran sucinya, dan juga kebangsaannya. (Gautama Smṛti, IV 18).

b. ” Hendaknya bagian yang sensitive dari tubuh ini jangan diperlihatkan, karena itu akan merusak mental dari orang yang melihatnya.” (Kama Sutra.III.12)

c. ” Janganlah menulis, melagukan bagian tubuh yang sensitif selain untuk pasangannya, karena hal itu dapat merusak jalan darah dan pikiranmu.” (Kama Sutra.XII.9).

d. ” Nanjayantiṁ svake netre nā cabhyaktamanavṛtaṁ, nā prayet prasavanti ca tejaśkamo dvijottamaḥ” – Seseorang yang menginginkan keteguhan hati hendaknya tidak memandang wanita yang sedang bersolek, atau yang telah bersolek dengan menelanjangkan badannya, dan juga jangan melihat wanita yang sedang melahirkan. (Manavadharmasastra IV.44).

e. ”Tengkuk,buah dada, paha, dan betis wanita adalah kekuatannya ; sinar auranya akan hilang apabila diperlihatkan pada laki-laki di saat malam hari”.(Kama Sutra. VIII.7).

f. ” Upetya sṇātako vidvanneksenna gṇaṁ para ṣṭriyam sa rahasyaṁ ca samvadam para ṣṭrism vivarjayet.” – Bila ingin memiliki keteguhan hati dan kemasyuran janganlah menggauli wanita selain istri sendiri. Jangan bersenda gurau cabul dan menyentuh bagian rahasia dari isteri orang lain. Jauhilah perbuatan itu. ( Gautama Smṛti.IX.32).

g. ”Wanita mempunyai nafsu birahi yang mengalir. Janganlah mendekati wanita yang dengan sengaja pemperlihatkan bagian belakang (leher dan punggungnya) seperti ular kobra. Dia akan mematukmu dengan racun seks.” (Kama Sutra. XLVII. 8)

h. ” Patiṁ ya na bhicarati māṇo vagdena sangyati sa bhartṛlokaṁ apnoti sadbhiḥ sadviticocyate.” -Mereka yang selalu mengendalikan pikiran perkataan,dan tubuhnya tidak menyalahgunakan kehormatanya, akan mendapat tempat mulia, dan dialah disebut budiman/sadhu. (Manavadharmasastra.XI.29)

Ketentuan hukum dalam Hindu yang berkaitan dengan pacaran antara lain disebutkan di dalam kitab Manavadharmasastra dan Parasara Dharmasastra.

a. “paraṣṭriyam yo bhivadettir ihe ranye vanepi va, nadinam vapi sambhede sa saṁgrahanamāpnuyar” – Ia yang bergurau cabul dengan wanita lain di tempat suci (Tirtha), di tempat sunyi (hutan), di pertemuan dua sungai (tempat mandi) diancam dengan ancaman hukuman karena sangrahana. (Manavadharmasastra VII.356).

b. “Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam.” – Memberikan sesuatu yang merangsang wanita lain, bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang (hukumnya) harus dianggap sama dengan berzinah. (Manavadharmasastra. VIII.357).

c. “Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam” – Bila seseorang menyentuh wanita lain pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah. (Manavadharmasastra. VIII.358)

d. “Setelah menggauli (berbuat cabul) dengan wanita pelacur atau wanita jalang setiap orang dari semua Varna harus melaksanakan penebusan dosa prapatyam dan membayar denda atau sedekah dan berpuasa.” (Parasara Dharmasastra. X.5-9)

e. “Bila seseorang laki-laki dengan maksud menghina mencemari wanita dengan kekerasan, maka dua jari tangannya dipotong segera dan didenda sebesar enam ratus pana.” (Manavadharmasastra. VIII.367).

Sumber lengkap :Trend “GAUL (PACARAN)” Generasi Muda Hindu

Incoming search terms:

Hosting Unlimited Indonesia