Orang Cerdas Cenderung Lebih Bahagia Ketika Sedikit Bersosialisasi

Hosting Unlimited Indonesia

Suatu malam minggu yang cerah, bintang dan bulan menerangi malam dan suara tawa bahagia terdengar di setiap sudut kota. Setiap teman di group chat LINE sedang makan sushi bersama, teman-teman Facebook sedang menikmati gathering perdana dan teman-teman kelas/tempat kerja sedang hangout bareng di restaurant. Sementara, kamu sendiri di rumah, memakai pakaian ternyamanmu dan menyelesaikan tugas. Kamu mulai berpikir kalau kamu terlahir sebagai penyendiri, walau kamu menikmati setiap waktu yang kamu habiskan bersama teman-teman.

Tapi, setiap kali dihadapkan pada pilihan antara menyelesaikan tugas atau bersosialisasi, kamu selalu memilih menyelesaikan tugas. Menyelesaikan sesuatu selalu memberikan sensasi yang tidak tergambarkan bagimu.

Jadi, apa yang salah denganmu?

Psikologis percaya bahwa mentalitas semacam ini adalah tanda tingkat kecerdasan yang tinggi

Februari 2016, Satoshi Kanazawa dari London School of Economics bersama Norman Li dari Singapore Management University menerbitkan riset di British Journal of Psycology yang menyatakan :

Individu yang lebih cerdas mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah dengan lebih sering bersosialisasi dengan teman-teman. (Li & Kanazawa, 2016)

Singkatnya, orang dengan tingkat kecerdasan tinggi merasa lebih bahagia ketika mereka kurang aktif secara sosial. Riset tersebut juga menemukan bahwa ketika banyak orang menikmati kehidupan damai dan tenang di daerah pedesaan,orang cerdas justru lebih bahagia tinggal di kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.

“Savanna Theory of Happiness”

Salah satu penjelasan yang mungkin menjelaskan perbedaan antara orang biasa dan para brainiacs ini adalah sebuah teori yang diciptakan oleh Kanazawa, “savanna theory of happiness”. Teori ini berpendapat bahwa meskipun manusia telah berevolusi, namun beberapa perilaku kita tetap menanggapi lingkungan leluhur kita.

Dengan kata lain, leluhur kita hidup di lingkungan dimana interaksi sosial sangat penting untuk bertahan hidup, kita sebagai manusia yang hidup di masyarakat modern tetap sering melakukan sosialisasi walau tujuannya bukan untuk bertahan hidup. Tapi, orang dengan tingkat kecerdasan tinggi bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan leluhur kita dan berhasil beradaptasi dengan lingkungan.

Perlu digarisbawahi bahwa teori ini masih memerlukan riset dan pengembangan di masa mendatang. Tapi, ada setidaknya tiga hal yang bisa membuktikan adanya hubungan tingkat kecerdasan seseorang dengan cara bersosialisasi mereka :

Mampu Mengatasi Rasa Kesepian

Tidak diragukan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan bagaimana pun, interaksi sosial menjadi bagian penting dari kehidupan kita. Tapi, ketika kamu tidak memberikan terlalu banyak perhatian pada kehidupan sosial dan bisa bahagia walau sendiri, hal itu mungkin menunjukan kemampuanmu dalam mengatasi rasa kesepian dan keinginan untuk selalu bersosialisasi. Otakmu bisa bekerja berbeda dari orang biasa.

Percaya Pada Kemampuan Sendiri

Masyarakat modern memang tidak menjadikan sosialisasi sebagai cara bertahan hidup, tapi terkadang kitabsia mendapatkan kebahagian dan dukungan emosional dari interaksi sosial dan terhubung satu sama lain. Tapi, orang cerdas percaya pada kemampuan dirinya dalam mengatasi banyak masalah sehingga tidak menghabiskan waktu bersosialiasi sebanyak orang lain pada umumnya.

Daftar Prioritas

Karena interaksi sosial bukanlah sumber kebahagian utama, maka orang cerdas cenderung memprioritaskan hal lain seperti tugas diatas sosialisasi. Orang cerdas sudah bisa membayangkan prioritas yang harus dikerjakan dan kapan waktu yang tepat untuk sedikit interaksi sosial. Percaya bahwa memiliki kehidupan sosial yang aktif sama pentingnya dengan menyelesaikan tugas dan mencapai impian. Hal ini menunjukan kemampuan dalam manajemen waktu yang baik.

Incoming search terms:

Hosting Unlimited Indonesia