The Martian, Semakin Dekat dengan Koloni di Mars

Hosting Unlimited Indonesia

Pada 2011 lalu, seorang penulis asal Amerika Serikat merilis novel berjudul “The Martian” secara independen. Saat dibuatkan versi Amazon Kindle-nya, buku yang dijual seharga 99 cents tersebut terjual sebanyak 35.000 kopi dalam waktu 3 bulan saja. Hingga pada akhirnya, di tahun 2014 (setelah dicetak ulang versi hardcopy-nya oleh Crown), buku tersebut menempati posisi 12 dalam New York Times Best Seller.

Namun, setahun sebelum hal itu terjadi, tepatnya pada Maret 2013, 20th Century Fox telah menyepakati kerjasama untuk mengadaptasi cerita dalam novel “The Martian” menjadi film terbaru mereka. Pembuatan filmnya sendiri dimulai pada November 2014 dan berlangsung selama kurang lebih 70 hari, bertempat di Budapest, Hungaria, di salah satu studio terbesar di dunia.

Sinopsis The Martian (Spoiler Alert!)

Tahun 2035, sebuah misi penjelajah di planet Mars bernama “Ares III” sedang berlangsung saat tiba-tiba datang badai yang sangat hebat. Komandan dalam misi tersebut, Melissa Lewis akhirnya memutuskan untuk membatalkan misi dan kembali ke kapal induk. Dalam badai tersebut, seorang botanis (ahli tanaman) bernama Mark Watney terkena puing dan dinyatakan telah meninggal.

Sayangnya, Watney tidak benar-benar “mati”. Dia masih hidup dan dengan kemampuannya dalam bercocok tanam, dia berusaha bertahan hidup menunggu misi “Ares IV” yang baru akan tiba 3 tahun lagi. Pada akhirnya, orang-orang di NASA mengetahui Watney masih hidup karena memperhatikan perpindahan barang-barang milik NASA yang ada di Mars, misi untuk menyelamatkan dan membawa Watney pulang pun dimulai.

Watney berhasil menjadi orang pertama yang menumbuhkan tanaman di Mars, memanfaatkan pupuk kompos dari kotoran para astronot serta air yang dihasilkan dari membakar bahan bakar roket. Watney akhirnya bisa berkomunikasi dengan orang-orang di bumi memanfaatkan robot Pathfinder yang pernah dikirim ke Mars pada 1997.

Semua berjalan baik-baik saja hingga terjadi sebuah insiden yang menyebabkan seluruh kentang yang ditanam Watney untuk bertahan hidup selama 3 tahun jadi “gagal panen”. Kini, orang-orang di NASA harus memikirkan cara agar bisa memberikan perbekalan pada Watney agar dia bisa bertahan hidup.

Seorang pakar Astrodinamis bernama Rich Purnell akhirnya memberikan ide agar bisa menyelamatkan Watney, yaitu dengan menambah misi Hermes, kapal induk yang digunakan Watney dan astronot lain untuk menuju dan pulang dari Mars.

Seluruh kru yang ada di Hermes menyetujui rencana tersebut karena Watney adalah salah satu dari kru mereka. Hermes yang seharusnya mendarat di bumi, hanya mengitari bumi untuk menambah persediaannya dan kemudian melaju kembali menuju Mars.

Adegan dimana para kru Hermes berusaha menyelamatkan Watney sambil berombang-ambing di luar angkasa menjadi adegan penutup paling penegangkan dalam filmnya.


Fakta Menarik The Martian (Spoiler Alert!)

Baik novel dan filmnya sendiri mendapat banyak kritik, bukan karena buruk atau kurang menarik tapi beberapa hal yang dianggap tidak sesuai dengan sains. Tapi, tolong dicatat bahwa imajinasi manusia tidak pernah bisa dibatasi oleh sains apapun.

Oke, kita bahas satu per satu.

Badai Dahsyat di Mars

Atmosfer di planet Mars sangat tipis, kira-kira kurang dari 1% atmosfer Bumi. Jadi, badai paling dahsyat di Mars pun seharusnya hanya seperti angin sepoi-sepoi di musim panas. Dalam novelnya, Andy Weir, penulis The Martian mengungkapkan bahwa badai dahsyat tersebut memang tidak bisa terjadi dan hanya merupakan cara yang dia gunakan agar astronot bisa ‘tertinggal’ di Mars dan menganggap bahwa adegan badai tersebut akan sangat keren jika di filmkan dalam 3D, dan dia BENAR.

Gravitasi di Mars

Daya tarik planet Mars sebenarnya 40% lebih kecil dari Bumi, jadi seharusnya para astronot disana bisa meloncat lebih tinggi daripada berjalan seperti biasa, seperti dalam film John Carter, dimana manusia biasa di bumi bisa menjadi seperti Super Man di Mars.  Namun, sang sutradara, Ridley Scott mengatakan jika berat dari baju luar angkasa yang dipakai pemeran utama sudah cukup untuk menghilangkan perbedaan itu.

SOL

SOL adalah sebutan yang digunakan para astronom untuk menunjukan satu hari di Mars. Uniknya, satu hari di Bumi dan satu hari di Mars tidak berbeda terlalu jauh. Bumi memerlukan 23 jam, 56 menit dan 4 detik untuk satu kali berotasi pada sumbunya sementara Mars memerlukan 24 jam, 39 menit dan 35 detik untuk melakukannya.

Kemungkinan Hidup di Mars

Pertama, walau permukaan Mars diketahui sebagai sebuah gurun yang lebih gersang dari gurun manapun di Bumi, tapi di bawah permukaan merahnya, Mars menyimpan lapisan es yang mungkin bisa dilelehkan menjadi air untuk bertahan hidup. Apalagi, baru-baru ini, NASA menemukan adanya air di Mars.

Kedua, rentang suhu yang sangat jauh di Mars yaitu antara -151 sampai 22 derajat Celcius mengharuskan manusia yang akan tinggal disana hanya beraktivitas luar ruang saat suhu cukup hangat saja.

Ketiga, 95% udara di Mars adalah karbon dioksida. Jadi, oksigen adalah sebuah masalah yang lebih dahulu harus dipecahkan sebelum membangun koloni di Mars.

Keempat, The Martian mungkin telah menginspirasi bahwa bercocok tanam di Mars itu memungkinkan. Namun, perlu diketahui bahwa ada alasan mengapa memakai kotoran manusia sebagai pupuk kompos tidak dianjurkan, hal itu karena besarnya kemungkinan penularan penyakit.


 

The Martian mungkin telah kembali meningkatkan minat untuk melakukan penjelajahan luar angkasa dan memunculkan kembali sebuah pertanyaan lama,

“Apakah manusia bisa tinggal di planet Mars?”

Saya sendiri menjawab, “BISA”. Tapi, mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Kita masih perlu memikirkan banyak faktor-faktor lain seperti radiasi, tipisnya atmosfer dan jangan lupakan para alien. 😀

Incoming search terms:

Hosting Unlimited Indonesia