The Railway Man, Trauma Sisa Perang Dunia II

Hosting Unlimited Indonesia

Perang memang selalu membawa penderitaan, bahkan bertahun-tahun kemudian pun, orang-orang yang terlibat dalam peperangan tersebut masih merasakan derita/kecewa/trauma. Setidaknya, itulah gambaran yang bisa saya dapat setelah menonton film The Railway Man yang dirilis pada 2013 lalu.

Film ini merupakan adaptasi dari autobiografi seorang Eric Lomax, seorang pensiunan tentara Britania Raya pada masa perang dunia II. Saat perang dunia II, Lomax dan pasukannya bertugas di Singapura. Saat itulah, Jepang berhasil mengambil alih Singapura dari tangan Britania Raya lalu menjadikan pasukan Inggris sebagai tahanan atau lebih tepatnya budak.

 

Para tahanan perang ini kemudian dibawa ke Kanchanaburi, Thailand dan dipekerjakan untuk membangun rel kereta Thailand-Burma, di sebelah utara dari tanjung Malaysia.

Lomax dan teman-temannya yang merupakan teknisi, berhasil membuat sebuah radio penangkap siaran dari barang-barang yang mereka temukan di tempat tahanan. Radio tersebut menerima siaran radio tentang berita peperangan. Mereka membuatnya agar tidak kehilangan harapan dan memotivasi diri mereka di tahanan.

Sayangnya, polisi militer Jepang (Kampeitai) mengetahui perbuatan Lomax dan teman-temannya, Lomax yang dianggap sebagai orang yang paling bertanggungjawab dituduh sebagai mata-mata pihak Britania dan radio penangkap siaran yang dibuatnya dianggap sebagai peralatan untuk memberitahu musuh rencana dari Jepang.

Saat ditangkap oleh Kampeitai inilah, Lomax bertemu dengan Takashi Nagase, seorang perwira muda di Kampeitai yang bertugas sebagai penerjemah. Nagase pernah ingin berusaha membantu Lomax, asalkan Lomax mau mengaku bahwa alat yang dibuatnya adalah alat untuk mengirimkan pesan pada musuh. Tapi, Lomax menolak.

Lomax pun terus disiksa oleh Kampeitai agar mengaku, ada sebuah adegan dimana Lomax disiksa menggunakan metode waterboarding, sebuah metode penyiksaan yang sangat menyakitkan. Dimana wajahnya ditutup dengan handuk lalu disiram dengan air, metode penyiksaan ini menimbulkan sensasi seperti tenggelam dan bisa berakibat fatal atau trauma berat.

Akhirnya, Lomax mengakui atau lebih tepatnya terpaksa mengakui kalau alat tersebut untuk mengirimkan pesan. Tidak lama kemudian, pihak sekutu akhirnya datang dan membebaskan Lomax.

 

Bertahun-tahun kemudian, Lomax masih menderita trauma karena siksaan dari Kampeitai. Apalagi ketika dia mengetahui bahwa salah satu orang yang bertanggungjawab atas trauma yang dia rasakan, Nagase, tidak dihukum sebagai penjahat perang. Setelah beberapa kejadian, Lomax pun memutuskan mendatangi Nagase bersama istrinya, Patti.

Saat Lomax bertemu Nagase, Lomax tidak bisa menahan emosinya, apalagi mereka bertemu di tempat dimana Lomax disiksa oleh Kampeitai semasa perang. Nagase berusaha menjelaskan mengapa dia tidak diadili sebagai penjahat perang. Hingga akhirnya, Lomax memberikan ampun dan maaf pada Nagase dan mereka pun menjadi sahabat.


Pertemuan antara Lomax dan Nagase, benar-benar terjadi dan di filmkan pada sebuah film dokumenter pada 1995 berjudul Enemy, My Friend?

Film The Railway Man adalah film yang bagus, karena tidak banyak film yang menceritakan efek pasca perang setelah bertahun-tahun kemudian, seperti yang dialami oleh Lomax. Film ini tidak hanya bercerita tentang penderitaan namun juga tentang hubungan antar manusia.

 

Hosting Unlimited Indonesia